Balik ke daftar

Project 01 · Mobile App · 2024

TaXi — Talk Anxiety

GroupClassNot shipped

Aplikasi mobile kesehatan mental yang aku dan tim angkat dari tiga lomba — finis finalis di UDINUS, tersingkir di UGM, lalu Juara 2 di UNY.

Type
Mobile App
Year
2024
Status
Stuck (no launch) — competing only
Stack
Flutter · Next.js · OpenAI GPT-4 · Supabase
🧠
Group Project — Tim 4 orang. Peranku: Backend + AI Integration — Next.js API, integrasi OpenAI GPT-4, sebagian mobile Flutter, dan presentasi di lomba.
Hasilnya
0
di 2024

HiTech UDINUS (finalis), Find IT UGM (tidak lolos), UNITY UNY (Juara 2). Tiga lomba, project yang sama, eksekusi yang berbeda — hasilnya beda total.

Yang aku dapet

Demo reliability bukan opsional. Satu error di depan juri = niat baik produk hancur. Setelah HiTech aku wajib test retry logic + fallback untuk semua jalur, termasuk respons AI yang bisa kapan saja ngeluarin jawaban ngaco.

Prompt pertama untuk chatbot hampir selalu salah. Yang ngajarin aku bukan buku — tapi pas demo di HiTech, juri tanya hal teknis, bot jawabnya keluar konteks. Pelajaran: anchor persona, constraint, dan safety layer harus ditulis dulu sebelum apa-apa.

Produk sama, eksekusi beda, hasilnya beda jauh. Latihan presentasi tiap hari selama satu minggu + revisi pitch deck bareng dosen pembimbing = pembeda antara finalis dan juara. Bukan kebetulan.

Cerita di baliknya

Awalnya bukan ide besar. Semester 2, lagi rame banget isu kesehatan mental di media sosial, dan ada mahasiswa UDINUS sendiri yang meninggal — kelihatan di timeline kami, dekat banget. Aku dan tim mikir, oke, daripada cuma galau di Twitter, bikin sesuatu. TaXi lahir dari situ: aplikasi yang kasih ruang aman buat ngobrol duluan sama AI, sebelum orang itu berani cerita ke manusia.

Aku pegang backend sama integrasi AI. Stack-nya apa adanya waktu itu: Flutter buat mobile, Next.js buat API, OpenAI GPT-4 buat chatbot, Supabase buat database, auth, dan storage. Versi pertama chatbot hampir tanpa system prompt yang proper. Aku belum kenal RAG, belum paham anchor persona, dan belum pernah mikirin safety layer. Pas lomba pertama — HiTech UDINUS — aku yang presentasi sendiri. Demo di tengah, ada error kecil, bot langsung ngejawab ngaco. Juri nanya hal teknis, bot keluar konteks. Aku selesai presentasi dengan perasaan tahu: ini belum cukup. Hasilnya lolos finalis, tapi bukan juara. Komentar juri banyak, dan semuanya valid.

Habis itu kami iterasi. Aku pelajari cara anchor persona, bikin fallback kalau AI jawab di luar topik, tambah retry logic. Prompt engineering di-ulang beberapa kali. Submit lagi ke Find IT UGM — tidak lolos. Jujur waktu itu rasanya pengen nyerah. Project yang sama udah dua kali gagal, dan kami mulai mikir apa idenya emang nggak relevan.

Tapi kami tetap lanjut. Seminggu sebelum UNITY UNY, aku dan tim latihan presentasi tiap hari bareng Pak Filmada, dosen pembimbing. Pitch deck di-revisi berkali-kali sampai hafal alurnya. Fokus iterasi: kualitas respons chatbot (prompt di-ulang sampai empat kali), tambah fitur mood tracker, kalkulator kesehatan mental, dan konsultasi ahli. Hari H presentasi — kali ini nggak ada error. Bot ngejawab konsisten, demo lancar, sesi tanya jawab bisa kami jawab. Hasilnya: Juara 2. Kemenangan pertama aku di lomba.

Tapi project-nya sendiri stuck sampai sekarang. Kami nggak tahu cara publish ke App Store, dan nggak tahu cara dapat dana. Itu PR yang belum kelar, dan jadi pengingat yang penting buat aku: kemampuan teknis nggak cukup. Harus paham juga go-to-market. Sekarang setiap aku nge-ship sesuatu, aku selalu mikirin: oke, tapi terus gimana?

Lanjut →
One Call App
Detail singkat
TypeMobile App
Year2024
StatusStuck (no launch) — competing only
StackFlutter · Next.js · OpenAI GPT-4 · Supabase
Tautan & demo